Jumat, 21 Oktober 2011

Sugestopedia

         Tadkiroatun Musfiroh


A.      Pengertian Suggestopedia
Suggestopedia berasal dari kata suggestology, yaitu ilmu tentang pengaruh-pengaruh nonrational dan/atau nonconscious pada manusia (Ricards, 1999: 142). Metode ini dikembangkan oleh Georgi Lozanov (1978), seorang ahli fisika dan psikoterapi dari Bulgaria. Oleh karena itu, suggestopedia juga dikenal dengan Metode Lozanov atau Belajar dan Mengajar Sugestif-Akseleratif (Suggestive-Accelerative Learning and Teaching). Lozanov percaya bahwa otak manusia mampu memproses sejumlah banyak materi apabila diberikan kondisi yang tepat untuk belajar, diantaranya relaksasi dan pemberian kontrol dan otoritas pada guru.
Ciri metode ini adalah menciptakan suasana “sugestif”. Suatu contoh penerapannya menciptakan suasana yaitu dengan cahaya yang lemah lembut, musik sayup-sayup, dekorasi-dekorasi ruangan yang ceria, tempat duduk yang menyenangkan dan teknik-teknik dramatik yang digunakan oleh guru dalam penyajian bahan pelajaran.
Tujuan dari metode ini adalah untuk membuat para siswa santai (tidak tegang), yang memungkinkan mereka membuka hati mereka secara sadar untuk belajar (bahasa) dengan nyaman dan tidak tertekan. Musik digunakan sebagai alat untuk membantu siswa relaks dan menjadi panduan dalam penyajian materi.
B.       Teknik dan Komponen Suggestopedia
Teknik yang digunakan dalam suggestopedia adalah memorization. Akan tetapi, perlu ditegaskan di sini bahwa memorisasi yang dimaksud bukanlah vocabulary memorization tetapi memorization of grammar rules (Richards, 1999). Jadi, siswa tidak diarahkan untuk menghafal kosa kata dan membiasakan ujaran, tetapi siswa diarahkan pada tindakan komunikasi.
Menurut Richards (1999), ada enam komponen penting dalam suggestopedia. Keenam komponen tersebut adalah sebagai berikut.
1.     Otoritas
Lozanov percaya bahwa manusia akan lebih ingat dan terpengaruh dengan informasi yang diperoleh dari sumber yang memiliki otoritas. Oleh karena itu, dalam suggestopedia guru harus memiliki otoritas yang besar.
2.     Infantilization
Yang dimaksud dengan infatilization adalah hubungan antara guru dan siswa sebaiknya seperti hubungan antara orangtua dengan anaknya.
3.     Double-planedness
Siswa tidak hanya belajar dari instruksi yang diberikan oleh guru, tetapi juga dari lingkungan di mana instruksi itu diberikan.
4.     Intonasi
Intonasi dalam penyampaian materi digunakan untuk mencegah kebosanan dan untuk mendramatisasi, mempengaruhi secara emosional, serta memberikan makna pada materi linguistik.
5.     Ritme
Fungsi ritme di sini sama dengan fungsi intonasi yang telah disebutkan sebelumnya.
6.     Concert Pseudo-Passiveness
Intonasi dan ritme disesuaikan dengan musik latarnya, sehingga dapat membantu siswa bersikap santai. Kondisi inilah yang penting dalam pembelajaran, karena siswa tidak tegang dan kemampuan konsentrasi meningkat.
C.      Kegiatan dalam Suggestopedia
Rangkuman kegiatan KBM dengan metode Suggestopedia dijelaskan oleh Ommagio (1986) adalah sebagai berikut.
1.     Diadakan tinjauan kembali atas bahan-bahan yang telah dipelajari sebelumnya, secara eksklusif dalam bahasa baru. Permainan dan lakon pendek yang lucu seringkali digunakan dengan tujuan tertentu. Akan tetapi, praktek mekanistik tetap dihindari dan dijauhi.
2.     Bahan baru disajikan dalam konteks dialog-dialog panjang, yang diperkenalkan atau dilanjutkan dalam dua fase “konser”. Dialog-dialog tersebut menggambarkan situasi-situasi pemakaian bahasa khas dalam budaya sasaran. Dialog-dialog itu disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai kesinambungan dalam alur dan hubungan, dalam plot dan konteks di seluruh pelajaran. Para tokoh dalam dialog diberi nama yang bersajak dan mempunyai beraneka ragam pribadi dan profesi yang menarik hati. Dalam fase aktivasi para siswa dapat mengadopsi  peranan para tokoh ini bagi kegiatan latihan/praktek bahasa. Dalam “ konser aktif”, para siswa mendengarkan musik pada saat guru membacakan baris-baris dialog, biasanya sati pada satu waktu para siswa mengikuti dengan menyimak dalam buku. Selanjutnya dengan “konser pasif”, para siswa menyimak pada pembacaan teks kembali oleh guru dengan nada yang bervariasi dan diiringi dengan musik yang sayup-sayup. Kedua fase ini dirancang untuk memungkinkan siswa menyerap bahan-bahan pelajaran baru pada tingkat sadar, tingkat bawah sadar.
3.     Fase aktivasi, fase ini mengikutsertakan siswa dalam bermain peran dan kegiatan-kegiatan praktek untuk mengaktifkan atau mempraktekkan bahan-bahan yang telah dipelajari.
Menurut Richards dan Rodgers kegiatan pengajaran bahasa dengan sugggestopedia terdiri atas tiga bagian.
a.      Diadakan tinjauan kembali atau mengulang bahan pelajaran hari sebelumnya. Ini dilakukan dalam bentuk percakapan, permainan, sketsa, cerita lucu dan acting. Bila siswa membuat kesalahan, ia dibetulkan tetapi dengan nada yang mendorong ke arah positif. Pada bagian ini, praktik yang mekanistik harus dihindari.
b.     Bahan baru disajikan dalam konteks melalui dialog-dialog panjang dan caranya tidak jauh berbeda dengan cara yang tradisional; bahan-bahan disajikan, dan diperagakan, diikuti dengan keterangan kata-kata baru dan tata bahasa. Dialog yang dipergunakan sebagai bahan pembelajaran, harus relevan, riil, menarik, dan dipergunakan sesuai dengan isinya.
c.      Séance adalah pertemuan yang tujuannya untuk reinforcement bahan baru pada taraf bawah sadar. Kegiatan séance ini terdiri dari dua macam, yang aktif dan yang pasif. Kegiatan ini berlangsung selama satu jam.
Agar metode ini dapat dipraktikan secara efektif, menurut Bancroft (1978) dan Krashen (1986), ada 3 unsur yang harus dipenuhi, antara lain sebagai berikut:
1.     ruang kelas yang menarik atau atraktif (dengan cahaya lembut) dan suasana kelas yang menyenangkan;
2.     guru yang berkepribadian dinamis yang mampu memerankan bahan dan memberikan motivasi pada para siswa untuk belajar; dan
3.     para siswa yang siap-siaga dalam kesantaian.
Pada umumnya, bahan pelajaran diberikan dalam bentuk dialog yang sangat panjang. Dialog pada suggestopedia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a) penekanan pada kosakata dan isi, b) dasar pembuatan dialog adalah keadaan atau peristiwa hidup yang riil, c) baru secara emosional relevan, d) kata-kata yang diberi garis bawah dan disertai transkripsi fonetis untuk lafalnya.
Metode ini mencakup suasana sugestif di tempat penerapannya, dengan cahaya yang lemah lembut, musik yang sayup-sayup, dekorasi ruangan yang ceria, tempat duduk yang menyenangkan, dan teknik-teknik dramatik yang dipergunakan oleh guru dalam penyajian bahan pembelajaran. Semua itu secara total bertujuan membuat para pembelajar santai, yang memungkinkan mereka membuka hati untuk belajar bahasa dalam suatu model yang tidak menekan atau membebani para siswa.

Tabel 7.
Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Suggestopedia
(Rambu-Rambu Penyusunan RPP dan Pelaksanaan
Pembelajaran Sugestopedia)

SUGGESTOPEDIA ASLI
SUGGESTOPEDIA ADAPTASI
1.       Presentation
A preparatory stage
(anak dibantu untuk relaks dan menuju frame positif) (mind and feeling) bahwa belajar akan dibuat
lebih mudah & menyenangkan.
2.       First Concert—“Active Concert”
Presentasi aktif dari materi yang diajarkan, misal: membacakan teks drama disertai musik klasik
3.       Second Concert—“Passive Review”
Anak diajak relaks dan mendengarkan musik, dengan teks yang dibacakan dengan sangat pelan. Musik dipilih yang mampu menghantarkan siswa ke kerja mental yang terbaik agar mampu memahami materi pembelajaran dengan lebih mudah.
4.       Practice
Menggunakan permainan, puzzle,
untuk mereview dan menguatkan kembali apa yang dipelajari.
1.       Persiapan
Ice-breaking, motivasi, penjelasan secara sugestif, tujuan & metode. Secara fisik, kelas dibuat lebih berwarna, lebih segar, dan lebih
2.       Konser awal
Kegiatan menyimak materi langsung dari guru (media berbasis manusia), dari radio, dari rekaman, atau dari model. Suara dibuat jelas, jeda pas, volume sesuai, dan suara bulat dan kuat. Musik secara tersamar terdengar. Anak-anak boleh menyimak dengan perhatian seluruh indera, boleh dengan memejamkan mata, boleh dengan membentuk peta konsep imajinatif.
3.       Konser akhir
Kegiatan menyimak diulang. Musik sedikit dikeraskan dan materi menyimak lebih pelan. Anak berada pada posisi santai dan sangat dianjurkan menutup mata.
4.       Praktik
Anak membuat mind-map, menjawab pertanyaan  simakan, atau menceritakan kembali, atau membuat ulasan terhadap bahan simakan.

Tabel 8.
Pedoman Observasi dalam penyusunan RPP

KEGIATAN AKHIR  DALAM SUGGESTOPEDIA
DESKRIPSI INSTRUMEN
Mind-Map
Guru membuat rambu-rambu pada awal dan dijelaskan pada saat konser secara suggestif.
Guru menyiapkan bahan simakan lalu membuat peta-konsep yang baku.
Guru mengevaluasi peta konsep yang dibuat anak dengan teknik tertentu, langsung guru atau kooperatif.
Menjawab Pertanyaan
Guru menyiapkan materi simakan lalu membuat pertanyaan dengan tingkat kognisi berjenjang. Tes dibuat dalam bentuk objektif.
Guru memberikan tes pada saat anak-anak selesai konser kedua.
Guru memberikan skor.
Tes diujikan dulu di kelas lain untuk dilakukan validitas dan uji reliabilitas. Tes menggunakan rumus tertentu.
Menceritakan Kembali
Guru menyiapkan bahan simakan lalu membuat poin-poin yang kemudian dikembangkan menjadi ringkasan dan poin penilaian.
Guru meminta ahli untuk memvalidasi poin penilaian
Guru mengujikan point dan ringkasannya kepada kelas lain
Guru memberikan tugas kepada anak pada sesi praktik
Guru menilai tugas anak dengan menggunakan instrumen yang dibuat.
Membuat ulasan
Guru menyiapkan bahan simakan lalu membuat contoh ulasan dan poin-poin penilaian.
Guru meminta ahli untuk memvalidasi poin penilaian.
Guru memberikan rambu-rambu cara membuat ulasan saat konser kedua.
Guru memberikan tugas membuat ulasan pada sesi praktik
Guru menilai tugas siswa dengan melihat pada ulasan guru dan poin-point penilaian.


DAFTAR PUSTAKA

Achsin, Amir. 1981. Pengajaran Menyimak. Jakarta: P3G

Bormann,  Ernest G dan Nancy C. Bormann. 1989. Retorika Edisi Kempat. Jakarta: Erlangga

Brown, H. D. 2001. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New York: Pearson Education

Clark, Harbert & Clark, Eve V. 1977. Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Das Bikram K. 1988. Material For Language Learning and Teaching. Singapore : SEAMEO. Regional Language Centre

Departemen Pendidikan clan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan Institut Pendidikan Tinggi. 1988. Menyimak dan Pengajarannya.

Lilian M. Logan clan Virgil G. Logan. 1972. Creative Communication Teaching the Language Arts. Toronto-New York: Mc Graw-Hill Rysorn Ltd.

Montgomery. Robert L. 1983. Teknik Mendengarkan yang Efektif dalam Berkomunikasi. Jakarta : PT Uptake Binaan Pressindo.

Nunan, David. 1989. Design Task For The Communication Classroom. Penerbit: The Press Syndicate of The University of Cambridge.

Nunan, David. 1991. Language Teaching Methodology. New York: Prentice Hall.

Ommagio, Alice C. 1986. Teaching Language in Context Inc. Boston : Massachusetts 02116 USA: Heinle & Heinle.

Pauk, Walter. 1984. "Sistem Pencatatan Kuliah" dalam Kemajuan Studi No. 3 Tahun 1984.

Rivers, Wilga M. 1968. Teaching Foreign Language Skills. Chicago and London : The University of Chicago Press.
.
Richards, Jack C & Theodore S. Rodgers. 1999. Approaches and Methods in Language Teaching: a Description and Analysis. Cambridge: Cambridge University Press.

Underwood, Marry. 1989. Teaching Listening. London : Longman.

Ur, Penny. 1984. Teaching Listening Comprehension. Cambridge : Cambridge University Press.




                                             Penulis adalah Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
                                             Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar